Rabu, 19 Juli 2017

Hunger Games di Coban Waru

Edit Posted by with No comments
Assalamu'alaikum kawanqu

Baru beberapa jam terakhir menulis, sekarang menulis lagi karena sedang mengalami kegabutan yang hakiki.

Di postingan sebelum ini, aku janji mau ajak jalan-jalan temen-temen............. Tapi lewat tulisan sama foto aja ya jadi dibayangin aja OK OK OK?

Ceritanya masih lanjutan dari perkuliahan ekowisata. Jadi, ekowisata memiliki 1 SKS praktikum. Praktikumnya ini fleksibel, bebas pilih kelompok dan bebas mau ke tujuan mana aja. Disana kita boleh evaluasi atau analisis daerah wisata dan diminta untuk menyimpulkan apakah daerah tersebut sesuai atau tidak untuk dikatakan daerah ekowisata. Selain 4 aspek yang di postingan sebelum ini, ada beberapa tambahan analisis yang diminta oleh Dosen. Postingan ini mau bahas pengalaman perjalanan kesana dulu ya, yang analisis next postingan aja. H3h3

Langsung aja...

Kelompok kami beranggotakan 7 orang. Kami memilih lokasi di Coban Waru, Pacet, Mojokerto. Why??
Karena kurang lebih setahun sebelumnya, kami pernah melakukan program kerja himpunan di Desa Sajen, Pacet Mojokerto. Pada saat itu, kami melakukan diskusi non-formal (ngobrol-ngobrol lah ya bahasa asyiknya) dengan warga dan karang taruna setempat. Sempat terlontar ucapan untuk menjadikan Coban Waru ini sebagai tempat wisata. Atas dasar itulah, akhirnya kami memanfaatkan praktikum ekowisata ini untuk menganalisis, apakah nantinya, Coban Waru dapat dijadikan destinasi ekowisata atau tidak?

Dimulai dari perjalanan Malang-Pacet, kami memilih lewat Cangar karena lebih dekat sekitar 2 jam. Jalanan yang ditempuh lumayan mengerikan karena turunan tajam berkali-kali dan melewati hutan yang masih rimbun. Jalanannya aja masih basah kena embun pagi. Bahkan dijalanan ketemu rombongan monyet yang lagi bergelantungan di pohon pinggir jalan loh wkwk. Lewat jalanan ini, agak kurang disarankan bawa motor matic, karena cepat panas remnya bahkan sampe blong. Bahaya deh pokoknya. Mending pake motor gigi atau kopling. Terus, pakai jaket ya kalo lewat Cangar karena hawa dinginnya OMG menusuk kulit dan sanubari...

Setelah itu, masuk ke Desa Sajen, Pacetnya. Karena kami disini kami sekalian melakukan pengabdian masyarakat, motor kami parkir di Balai Desa. Tapi, kalo untuk wisatawan lain kayaknya belum ada tempat parkir motor.

Perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki, melewati rumah warga, kebun-kebun dan peternakan. Jalannya agak menanjak diawal dan berbatu-batu, tapi so far masih layak untuk orang yang jalan kaki. Banyak kebun-kebun disini, kebun warga, peternakan, lahan perhutani dan milik PT HRL. Kejadian mengejoetkan terjadi pas lewat kebun warga adalah... kami digonggongin anjing kemudian kami bersembunyi di dalam toilet umum:(  beberapa saat kemudian, bapak pemilik kebun lewat dan kami meminta ijin untuk naik ke atas. Karena udah minta ijin, jadinya anjingnya dah gak menggonggong lagi, kayaknya udah dilatih sama pemiliknya untuk menggonggongin orang asing, untuk jaga kebun gitu. Pas ijin, kami juga diminta untuk hati-hati karena biasanya siang hujan diatas.

Pas minta ijin ke Bapaknya

Setelah lewat kebun, ada anak tangga yang kanan kirinya adalah hutan pinus. Lumayan tempat yang aesthetic untuk foto-foto.

Sorry, modelnya kurang aesthetic

Makin naik ternyata makin rimbun -___- yang artinya adalah beneran masuk hutan, babat jalan -_- gaksih gak babat juga, tapi jalannya beneran cuman setapak gitu. Semakin rimbun masuk ke hutan kami bertemu dengan hal yang sangat kami tidak inginkan dan gakbisa dihindarin.... Kami bertemu dengan.....

Tumbuhan Jancoek-an (Jelatang)

Gatau berapa meter jalanan yang kami lewati dengan kanan kiri dipenuhi si tumbuhan jelatang itu. Setelah melewati tumbuh-tumbuhan itu kami jadi mengerti kenapa dinamakan jancoek-an. Ketempel sedikit aja rasanya gatal dan perih yang langsung masuk ke dalam kulit dan gak berbekas. Jadi seperti penyiksaan di dalam jiwa gitu. Asli, sakit banget. Meskipun udah pake baju-celana panjang, kaos kaki tetap aja dia bisa nempel dan bisa nusuk juga. Rasanya kaya lagi di hunger games serius.. Berusaha untuk tetap tegar survive.

Belum selesai penderitaan kami, jalanan naik semakin curam. Cuaca juga semakin mendung. Kami ketemu dengan 3 orang wisatawan lain. Katanya udah deket semangat aja.

Mas-mas wisatawan, sempat berpikir mereka hanya halusinasi karena sepi bangett
 
Pas hampir mendekati air terjunnya, terdengar letusan semacem meriam 2x. Itu adalah peringatan dari bapak penjaga untuk turun, memang cuaca udah mulai gerimis. Namun, kami nekat tetap naik karena sudah dekat dan ini adalah tuntutan kuliah (jangan ditiru guys, ini amat sangat jangan ditiru). Setelah sampai dipuncak, ternyata oh ternyata air terjunnya ada di bawah. Jadi harus turun dengan jalanan yang sangat menukik. Beberapa dari kami sempat ragu untuk turun dan menyarankan yang cowo-cowo aja dulu yang turun (semacam mengorbankan kawan wkwk). Terus, setelah cowo-cowo bilang aman, akhirnya kami ikut turun dengan modal jongkok-prosotan dan pegangan pohon kecil disamping-samping. 

Akhirnyaaaa kami bisa melewati Hunger Games ini

 Foto hadap belakang karena sudah kucel tiada tara
 Bertemu coban hanyalah kesenangan sesaat, karena kami harus menghadapi kembali rimbunnya hutan dan tumbuhan jancoek-an yang pedih. Pas turun ternyata benar hujan, tapi gak deras jadi gak sampai basah kuyup.
Ps. Perjalanan pulang ke Malang kami lewat Pasuruan dengan waktu tempuh hampir 2x lipat ditambah macettt parah, dan nyasar wkwk sudah pegal diri ini ditambah pantat rasanya menyatu dengan jok motor...

Yang perlu diperhatikan kalau mau ke Coban Waru adalah:
1. Pastikan udah makan dan bawa perbekalan yang cukup karena medan yang cukup menantang dengan berjalan kaki kurang lebih 3 jam
2. Usahakan ketemu sama Bapak pemilik Kebun, karena belum ada pengelola. Setidaknya minta ijin sama bapaknya untuk naik ke Coban Waru.
3. Pakai baju-celana panjang, jilbab tebal, topi, kaos kaki. Sepatu yang telapaknya bergerigi jangan yang tepos nanti ngglundung karena licin
4. Bawa jas hujan, ini bisa melindungi dari hujan dan juga serangan si jancoek-an, jika dibutuhkan
5. Bawa baju-celana-kaos kaki cadangan karena jalanan bisa berpotensi becek dan disana gaada ojek

Oke, segini aja dulu, next akan bahas apakah Coban Waru bisa dikatakan sebagai ekowisata? Menurut sudut pandang kami dari praktikan ekowisata







Selasa, 18 Juli 2017

Ekowisata?

Edit Posted by with No comments
Assalamu'alaikum kawanqu!

Selamat datang di tulisan yang sangat amat pertamaxx di blog ini yaa!



Jadi begini, aku adalah mahasiswi S1 Jurusan Biologi di Universitas Brawijaya. Nah, di jurusan tersebut ternyata eh ternyata masih ada macam-macam peminatan gitu. Jadi, peminatan itu boleh diambil untuk ikut ke working group (semacam forum diskusi dosen-mahasiswa yang bersifat wajib setiap Jum'at) atau boleh ambil mata kuliahnya aja.

Oke, skip....

Karena aku sangat-amat-tidak-berbakat dalam dunia makhluk halus dan jasad renik. Maka aku mengambil peminatan yang sedikit tampan menantang dan berani yaitu.......


BIOKONSERVASI yeayyyy


Peminatan tersebut menawarkan salah satu mata kuliah yang sangat menarik yaitu EKOWISATA.


Nah, ekowisata itu apaan sih? bukannya sama kayak wisata-wisata lain?
Ada perbedaan nih antara wisata dengan ekowisata. Jadi, secara mudahnya, ekowisata adalah wisata yang terjadi di suatu tempat yang telah terjadi secara alami (kayak pantai, hutan, air terjun). Syarat suatu tempat dikatakan sebagai ekowisata jika memiliki 4 aspek yaitu, nature based atau menjadikan alam sebagai dasarnya, keberlanjutan ekologi, interpretasi dan edukasi serta yang paling penting menguntungkan warga sekitar tempat tersebut.

WISATA DI DAERAH ALAMI? APA GAK AKAN MENIMBULKAN EKSPLOITASI?
Sabar kawan-kawanqu, kita harus tengok lagi syarat 4 aspek diatas agar supaya tidak menimbulkan eksploitasi. Oya, kata dosenku supaya tidak terjadi eksploitasi, maka harus ada ahli biologi yang ikut terjun dalam ekowisata tersebut. Makanya bagi adek-adek yang bingung menentukan jurusan ayo pilih aja jurusan biologi UB, dijamin pintar dan cepat lulus *promosi*


Balik lagi ke... eksploitasi kah ekowisata ini?
Tentu saja tidak. Mari kita telusuri 4 aspek diatas
1. Ekowisata mementingkan nature based
  Suatu daerah wisata yang terbentuk alami akan memenuhi syarat ekowisata, sehingga tidak diperkenankan untuk merubah keadaan alami tersebut. Jika daerah tersebut ingin tetap dikatkan ekowisata..
Misalnya adalah.. Pantai

2. Memegang prinsip keberlanjutan ekologi
 Ekologi di daerah tersebut pasti akan dilindungi dan dibiarkan terjadi secara alami tanpa gangguan manusia. Kita bisa ambil contoh di Malang, yaitu di Pantai Gatra dan Tiga Warna. Tempat tersebut mewajibkan pengunjung untuk melist barang bawaan yang berpotensi menjadi sampah. Tidak main-main, saat pulang meskipun sampah yang dibawa pengunjung ber-trashbag trashbag. Tetap akan diperiksa sesuai list yang disimpan oleh pengelola. Hilang satu sampah, denda Rp 100.000. Nahloh, rugi bandar.  Disini terlihat betul bahwa ekologi tetap dinomor satukan. Karena sampah itu sangat berbahaya bagi lingkungan dan makhluk hidup disekitar.

Data barang berpotensi jadi sampah (source: iklantravel.com)

3. Edukasi dan Interpretasi
 Edukasi yang paling sederhana adalah mencintai lingkungan. Ya, seperti himbauan jangan buang sampah sembarangan. Kemudian edukasi lain yaitu nama ilmiah dari pohon yang ada di daerah tersebut atau bisa juga menyajikan papan berupa sejarah tempat tersebut.
Peringatan gini juga boleh, biar semua taat

4. Menguntungkan warga sekitar
 Ini yang penting nih, warga sekitar bisa diuntungkan dengan berjualan barang atau makanan khas daerah tersebut. Kemudian ketika ada ada suatu kegiatan budaya (karnaval, kirab dll) maka wisatawan akan melihat dan menambah popularitas daerah tersebut. Tidak hanya industri wisata yang meningkat tetapi juga akan sejalan dengan meningkatnya perekonomian dan perkembangan warga sekitar..


TERUS APA DONG KESAMAAN EKOWISATA SAMA WISATA LAIN?
Kesamaannya adalah sama-sama menguntungkan dalam segi ekonomi melalui pariwisata. Tapiiiiiii... ekowisata jauh lebih menguntungkan. Bukan hanya segi ekonomi melalui pariwisata ya tapi juga lewat warga lokal, kebudayaan juga bisa dipopulerkan loh lewat ekowisata. Serta nilai ekonomi tertinggi adalah terjaminnya keadaan ekologi didaerah tersebut. Kita bayangin aja, satu pohon itu bisa menghasilkan oksigen berapa selama sehari? kalo kita misalkan, dikonversikan jadi oksigen tabung? jadi berapa duit? besar sekali kan nilai ekonomi dari pohon. Itu masih pohon aja, bagaimana dengan air? sudah gakbisa terhitung lagi nilai ekonominya saking buanyaknyaa.


Jadi begitulah kira-kira pengetahuan aku mengenai ekowisata selama satu semester, itu belum semua masih ada analisis ekowisata berdasarkan hasil diskusi kelompokku dalam kelas ekowisata. Bentuknya studi kasus, nanti kawan-kawan akan aku ajak jalan-jalan tapi lewat tulisan di blog.

Terima Kasih untuk yang sudah membaca tulisanku sampai akhir:3
Yuk berteman lewat sosial media:
Instagram: @aulynuzula